Jumat, 24 Juli 2020

Materi Pelajaran Al-Qur'an Hadits Kelas 7 "Pengertian dan fungsi Al-quran dan Hadits"


1. PENGERTIAN AL-QURAN
Secara Etimologi Al Qur'an merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) keduanya berarti: membaca, atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Anda dapat menuturkan, Qoro-’a Qor’an Wa Qur’aanan (قرأ قرءا وقرآنا). Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a) maka ia adalah mashdar dari Ism Faa’il, artinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi) karena ia mengumpulkan/mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum.
Sedangkan secara terminologi Al-Quran adalah firman atau wahyu yang berasal dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia semua masa, bangsa dan lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT yang terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan melalui para rasul. Hal ini juga senada dengan pendapat yang menyatakan bahwa  Al-Qur'an kalam atau wahyu Allah yang diturunkan melalui perantaraan malaikat jibril sebagai pengantar wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad berusia 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1 sampai ayat 5. Sedangkan terakhir alqu'an turun yakni pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah almaidah ayat 3.
Allah ta’ala menyebut al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkahan, pengaruhnya dan universalitasnya serta menunjukkan bahwa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.
2. FUNGSI AL-QURAN
1.Petunjuk bagi Manusia.
Allah swt menurunkan Al-Qur’ansebagai petujuk umar manusia,seperti yang dijelaskan dalam surat (Q.S AL-Baqarah 2:185 (QS AL-Baqarah 2:2) dan (Q.S AL-Fusilat 41:44)
2. Sumber pokok ajaran islam.
Fungsi AL-Qur’an sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya oleh segenap hukum islam.Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara umum seperti hukum,ibadah,ekonomi,politik,social,budaya,pendidikan,ilmu pengethuan dan seni.
3. Peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Dalam AL-Qur’an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu,baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya.Bagi kita,umat uyang akan datang kemudian rentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Qur’an.
4. Sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw
Turunnya Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang dimilki oleh nabi Muhammad saw. Al-Qur'an adalah wahyu Allah  yang berfungsi sebagai mu'jizat bagi Rasulullah Muhammad saw sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya, dan bernilai abadi.
            
Sebagai mu'jizat, Al-Qur'an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan ( insya Allah) pada masa-masa yang akan datang. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur'an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi.
Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba'. Tsamud, 'Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah SWT.

Bahasa Al-qur'an adalah mu'jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapihan susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-Qur'an. Karena gaya bahasa yang demikian itulah ‘Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur'an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah, sampai tidak jadi membunuh Nabi karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca Nabi.

3. PENGERTIAN HADITS
Menurut bahasa hadits adalah jadid, yaitu sesuatu yang baru, menunjukkan sesuatu yang dekat atau waktu yang singkat. Hadits juga berarti khabar, artinya berita, yaitu sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Selain itu, hadits juga berarti qarib, artinya dekat, tidak lama lagi terjadi.

Menurut ahli hadits, pengertian hadits adalah “Seluruh perkataan, perbuatan, dan hal ihwal tentang Nabi Muhammad SAW”, sedangkan menurut yang lainnya adalah “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuataan, maupun ketetapannya.”
Adapun menurut muhadditsin, hadits itu adalah “Segala apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik itu hadits marfu’(yang disandarkan kepada Nabi), hadits mauquf (yang disandarkan kepada sahabat) ataupun hadits maqthu’ (yang disandarkan kepada tabi’in).

4. FUNGSI HADITS TERHADAP AL-QURAN
Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Alloh. Kitab Al-Qur’an adalah sebagai penyempurna dari kita-kitab Alloh yang pernah diturunkan sebelumnya. Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam dan merupakan rujukan umat Islam dalam memahami syariat. Pada tahun 1958 salah seorang sarjana barat yang telah mengadakan penelitian dan penyelidikan secara ilmiah tentang Al-Qur’an mengatan bahwa : “Pokok-pokok ajaran Al-Qur’an begitu dinamis serta langgeng abadi, sehingga tidak ada di dunia ini suatu kitab suci yang lebih dari 12 abad lamanya, tetapi murni dalam teksnya”. (Drs. Achmad Syauki, Sulita Bandung, 1985 : 33). Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an meliputi tiga fungsi pokok, yaitu :  
1. Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
  
2. Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan 
 mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa 
yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an 
sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44 

3. Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum 
yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. 
Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram 
memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.  

Sabtu, 18 April 2020

Kak Yans Apresiasi Kegiatan KOPPA

KOPPA saat berbagi Dengan Anak Yatim


Komunitas Pecinta Pramuka atau dikenal dengan singkatan KOPPA, merupakan salah satu dari banyak komunitas yang ada kota Tanjungbalai. KOPPA sendiri terbentuk di awal januari 2020 yang lalu dan dipimpin oleh Sofyan Simanjuntak.

Di masa mewabah Virus Covid-19 ini, KOPPA turut serta turun melaksanakan program berbagi kepada warga yang terkena dampak dari mewabahnya virus covid-19 ini. 

Kegiatan KOPPA ini tak luput dari perhatian dari salah satu pegiat sosial, Kak Yansyah atau biasa disebut kak Yans (Ketua Alfata Community)
Dalam keterangannya, Kak Yans mendukung apa yang dilakukan oleh KOPPA.

Saya sangat mengapresiasi kegiatan KOPPA, Ditengah mewabahnya Covid-19 di Indonesia, dan Tanjungbalai terkena dampaknya, KOPPA turun dengan sikap kepeduliannya kepada sesama. tutur Kak Yans.

Kemarin di awal april, mereka berbagi beras kepada tukang betor, kemudian pada hari ini (18 April 2020) mereka kembali berbagi kepada anak2 yatim. Ini suatu hal yang patut didukung, lanjut kak Yans. 

Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh KOPPA ini membuat banyak orang
terinspirasi dan ikut serta berbagi sehingga dampak dari wabah ini bisa teratasi dengan baik. Tutup kak Yans dalam keterangannya. (team)

Jumat, 20 Maret 2020

MENERAPKAN HUKUM BACAAN MIM SUKUN DALAM QS. AL-BAYYINAH DAN AL-KAFIRUN

 Al-Qur’an ialah kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW dengan menggunakan bahasa Arab. Untuk membacanya, ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan. Kaidah-kaidah itulah yang disenut ilmu tajwid.

      Menurut bahasa tajwid berarti membaguskan, membuat bagus atau pembagusan (perbaikan bacaan). Menurut istilah, ilmu tajwid ialah ilmu  yang membicarakan tentang tata cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar. Dengan mempelajari ilmu tajwid, diharapkan pengucapan lafal-lafal dalam ayat Al-Qur’an menjadi tepat.

             Ada dua hukum berkaitan dengan ilmu tajwid. Pertama, hukum mempelajari ilmu tajwid sebagai penetahuan ialah fardu kifayah. Kedua, hukum menerapkan ilmu tajwid dalam membaca ayat-ayat Al-Qur,an hukumnya fardu ain.

1.  MACAM HUKUM BACAAN MIM SUKUN
                Mim Sukun yang bertemu dengan huruf hijaiyah, hukum bacaannya ada tiga. Ketiga hukum bacaan itu ialah : idgam mimi, Ikhfa syafawi, dan izhar syafawi

1)  Idgam mimi (ادغام ميمي )
Idgam mimi disebut juga Idgam mutamasilain. Huruf idgam mimi hanya satu, yaitu mim (  م).  Cara membacanya ialah dengan memadukkan suara mim sukun kedalam mim berharakat berikkutnya. Kemudian suara di gunnah kan secara sempurna dengan lama tiga harkat. Suara gunnah keluar dari pangkal hidung. Contoh :
١. كم من فئة                                                   ٤. ما لهم من علم
٢. عليهم مؤصدة                                      ٥. ولهم مهتدون
٣. ان كنتم مؤمنين                                              ٦. عليهم من كل باب

2)  Ihkfa syafawi (اخفاء شفوي)
Ikhfa berarti samara, sedangkan syafawi berarti bibir. Ikhfa syafawi terjadi apabila ada huruf mim sukun bertemu dengan huruf ba (ب ). Disebut ikhfa syafawi karena hukum ikhfa terjadi pada huruf yang bermakhraj di bibir.

          Cara membaca ikhfa syafawi ialah dengan suara samara antara mim dan ba. Kemudian, ditahan kurang lebih dua ketukan. Pada saat membacanya, kedua bibir merapat sehingga tidak ada udara yang keluar dri mulut. Contoh :       
١. ان ربهم بهم                               ٤. ان كثيرا منهم بعد ذلك       
٢. فاحكم بينهم بالقسط                              ٥. بل انتم بشر ممن خلق
٣. ومن لم يحكم بما انزل الله                          ٦. قد جاء كم بشير ونذير

3)  Izhar Syafawi (اظهار شفوي )
                Izhar berarti jelas., sedanngkan syafawi berarti bibir. Izhar syafawi terjadi apabila ada huruf mim sukun bertemu dengan huruf hijaiyah, selain mim ( م ) dan ba (ب ).

          Cara membaca izhar syafawi ialah dengan suara jelas. Pada saat mengucapkan huruf mim, kedua bibir dirapatkan. Kejelasan pengucapan huruf mim cukup satu ketukan, tidak boleh lebih dari satu ketukan, dikhawatirkan akan menjadi bacaan ikhfa atau gunnah.

          Pengucapan izhar syafawi harus lebih diperjelas ketika mim sukun bertemu dengan dua huruf, yaitu fa (ف ) atau waw (و ). Hal ini disebabkan kedua huruf tersebut makhrajnya berasal dari bibir.


2.  QS. AL BAYYINAH DAN AL KAFIRUN
1)  Surah Al-Bayyinah


لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (١) رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً (٢) فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ (٣) وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ (٤) وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (٥) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦) إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (٧). البينة


 2)  Surah Al-Kafirun

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (١) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (٢) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٣) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (٤) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٥) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (٦) الكافرون


1.    TERJEMAHAN QS AL BAYYINAH DAN AL KAFIRUN
a.    Terjemahan QS Al Bayyinah
1)   orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
2)   (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran),
3)   di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus[1594].
4)   dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.
5)   Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
6)   Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.
7)   Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.
8)   Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
[1594]   Yang dimaksud dengan isi Kitab-Kitab yang Lurus ialah isi Kitab-Kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi seperti Taurat, Zabur, dan Injil yang murni.
[1595]   Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

b.   Terjemahan QS Al Kafirun
1)   Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2)   aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3)   dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4)   dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5)   dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6)   untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

2.    ISI KANDUNGAN QS AL BAYYINAH DAN AL KAFIRUN TENTANG TOLERANSI
Surah al-Bayyinah yang berkaitan dengan toleransi adalah ayat 1 dan 2. kedua ayat ini menjelaskan sikap tegas yang dimiliki oleh orang-orang kafir dari golongan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan tidak akan meninggalkan ajaran agama mereka sampai datang keteranga yang nyata. Keterangan itu adalah nabi akhir zaman yang mereka dambakan akan membacakan lembaran-lembaran suci sebagai pedoman hidup.
Ada beberapa riwayat yang menjelaskan sebab-sebab turunnya surah al-Kafirun. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa sekelompok pemuka kafir Quraisy datang menemui Rasulullah saw. Mereka adalah al-Walid bin Mugirah, al-’Ash bin Wail, al-Aswat bin al-Mutalib, dan Umayyah bin Khalaf. Kedatangan mereka untuk mengajak Rasulullah saw. bersekutu dalam segala hal, termasuk dalam hal peribadahan. Mereka akan menyembah apa  yang beliau sembah. Beliau pun diminta menyembah apa yang mereka sembah. Bahkan, mereka mengangkat beliau sebagai pemimpin. Dengan adanya tawaran tersebut, turunlah wahyu Allah swt. yaitu Surah al-Kafirun. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina.
Pada ayat 2 dan 4, Rasulullah saw. menegaskan bahwa beliau tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang disembah orang kafir, yakni berhala. Ayat 3 dan 5. Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa orang kafir pun tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang beliau sembah, yakni Allah swt. Dengan demikian, Ayat 2-5 merupakan landasan fanatisme beragama. Rasulullaah saw. bersama kaum muslimin tetap mempertahankan ketauhidannya. Orang-orang kafir pun tetap mempertahankan agama mereka, yakni menyembah berhala.
Pada Ayat 6, Rasulullah saw. Menegaskan bahwa orang kafir tetap pada agamanya dan beliau bersama kaum muslimin tetap pada agama tauhid. Dengan demikian, Ayat 6 ini sebagai landasan hukum adanya tasamuhdalam beragama.

Kaum muslimin memberi kebebasan dan tidak boleh mengganggu orang kafir dalam menjalankan agama nya. Sebaliknya, orang kafir pun tidak boleh mengganggu kaum muslimin dalam menjalankan ajaran islam. Hal ini telah diterapkan Rasulullah saw. Ketika membanggun masyarakat Madinah. Orang Islam hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan Nasrani meskipun akhirnya mereka mengkhianatiumat Islam.


1.    KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA DALAM AJARAN ISLAM
a.    Fanatik
Menurut KBBI, Fanatik ialah teramat kuat kepercayaan (keyakinan) terhadap ajaran (politik, politik agama dan sebagai nya). Dengan demikian, orang yang fanatik dalam beragama berarti memiliki keyakinan yang kuat dan mantap dalam hati terhadap agama nya.
                Di dalam islam, sikaf fanatik terhadap ajaran agama disebut istiqomah. Islam mewajibkan umat nya memiliki sikaf fanatik atau istiqomah dalam beragama. Dengan sikap ini, seorang muslim akan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran islam. Muslim yang tidak fanatik terhadap ajaran islam disebut munafik, tidak memiliki pegangan hidup yang mantap.


b.   Toleran
                Menurut KBBI toleran ialah sifat atau sikaf suka menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian nya sendiri. Dengan kata lain, toleran berartti memberi kebebesan kepada orang lain untuk bersikaf atau berpendirian sesuai keinginan nya.

2.    KETERKAITAN ANTARA SURAH AL-KAFIRUN DAN AL-BAYYINAH TENTANG MEMBANGUN KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA DALAM FENOMENA KEHIDUPAN
Surah Al-Kafirun dan Al-Bayyinah mempunyai keterkaitan sangat erat yang saling melengkapi. Surah Al-Kafirun ayat 2-5 dan Al-Bayyinah ayat 1-2 sebagai landasan hukum wajibnya memiliki fanatisme atau istiqomah dalam beragama. Keyakinan yang telah dipilih harus diperjuangkan dengan segala kemampuan dan kekuatan. Dengan demikian, keyakinan itu tidak akan mudah goyah oleh pengaruh keyakinan lain. Keyakinan ini harus ditanamkan terhadap seluruh anggota keluarga.
             
               
1.    CARA PERILAKU ORANG YANG BERTOLERANSI DALAM BERAGAMA
Sikap fanatik beragama dan toleran harus dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Diantara wujud fanatisme dan tasamuh menurut kandungan surah Al-Kafirun dan Al-Bayyinah adalah sebagai berikut :
a.  Fanatik
1)  Sebagai seorang muslim kita harus mempertahankan keyakinan sampai akhir hayat, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢) آل عمران
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadanya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Ali Imran: 102)
2)  Tidak mudah terpengaruh oleh keyakinan lain karena kita yakin bahwa hanya agama Islam yang benar. Allah SWT berfirman sebnagai berikut :
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ....
 Sesungguhnya aganma disisi Allah ialah Islam. (QS. Ali Imran : 19)
3)  Tidak mengorbankan keyakinan demi keuntungan dunia karena kita tahu bahwa perbuatan itu akanmembawa pada kerugian, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٨٥) آل عمران
                Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan diakhirat dia termasuk orang yang rugi. (QS. Ali Imran : 85)

b.  Tasamuh atau Toleran
1)  Tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain  karena tidak  dibenarkan agama dan akal sehat. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦) البقرة
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah , maka sungguh, dia telah berpegang  (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar, maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256)
Islam disebut dengan ar-rusydu (yang benar), sedangkan selain Islam disebut al-gayyu (tidak benar). Manusia telah diberi akal, pikiran, dan perasaan yang dapat digunakan untuk memilih jalan yang diridai Allah swt, yakni Islam atau jalan yang tidak diridai-Nya, yakni non-Islam. Allah berfirman sebagai berikut.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (٢٩) الكهف
2) Sabar dalam menghadapi sikap orang-orang yang mendustakan Islam, sebagaimana para rasul terdahulu. Tegas seorang dai atau mubalig hanyalah menyampaikan Islam  kepada manusia dan mengajak untuk menjalankan nya. Seorang dai tidak bertanggung jawab terhadap iman atau tidaknya orang lain. Seorang dai kadang harus menanggung beban dihina atau didustakan. Ia harus sabar menerima nya, sebagaimana firman Allah swt, berikut ini:
Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, ssampai datang pertolongan kami kepada mereka… (Q.S. al-‘an’am/6: 34)

dalam ayat lain, Allah swt, berfirman sebagai berikut:
Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaran it semata-mata dengan pertolongan Allah dan jangan lah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. (Q.S. an-Nahl/16:127)

2)  Bersahaja dalam melaksanakan dakwah, tidak mengikuti jalan pikiran objek dakwah. Seorang dai tidak seharusnya hanya mengikuti kemauan objek dakwah dalam menyampaikan dakwahnya. Semua harus dikembalikan kepada ajaran Allah swt, berfirman sebagai berikut:
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Q.S. al-Isra’/17: 36).


3)  Bebas menjalin hubungan dengan non muslim selama tidak menyangkut akidah dan ibadah, sebagaimana firman Allah swt, sebagai  berikut:
Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Allah mencari orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. al-Mumtahanah/60: 8)


c.  Hikmah Fanatik dan Toleran dalam Kehidupan Sehari-hari
Sikap Fanatik toleransi berdampak positif dalam kehidupan bermasyarakat. Di antara dampak positif sikap  fanatik adalah:
·      Memiliki keyakinan yang kuat sehingga lebih mantap dalam melaksanakan agama;
·      Memiliki harga diri sehingga dipperhitungkan pihak lain;
·      Teruji dalam pandangan allah swt.
  Adapun dampak positif dari sifat toleransi, antara lain:
o  Terwujudnya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai;
o  Terwujudnya keamanan dan ketentraman hidup sesama anggota masyarakat;
o  Terpenhinya hak-hak setiap anggota masyarakat sehingga menimbulkan kepuasan batin;
o  Menumbuhkan persatuan dan rasa kebersamaan.